expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Halaman

Jumat, 10 Januari 2014

sinom grandhel

SINOM GRANDHEL
Laras Pelog Pathet Nem


1 2 2 2 2 2 3 1 2 1
Nu – la – dha la – ku u - ta – ma,
1 1 1 1 1 1 1 2 1 6 5
Tu – mrap- pe wong ta –nah Ja - wi,

1 2 3 1 2 6 6 6 5 6
Wong A – gung ing Ngek – si – gan – da ,


6 6 6 5 6 2 2 2 1 6. 6.
Pa - nem –ba- han Se – no – pa - ti ,


3 5 5 5 6 6 6
Ka – pa – ti a - mar – su - di,



1 2 3 1 2 6 5 5 6 5 3 2
Su - da – ne ha - wa lan nep - su ,


1 2 3 3 3 3 3
Pi - ne – su ta - pa bra- ta ,


6 6 6 5 6 2 2 2 1 6. 6.
Tan a - pi ing si – yang ra - tri ,

3 5 5 5 5 6 1 1 2 6 5 6 5 3 2
A - me – ma- ngun kar – ye – nak tyas – sing sa – sa – ma .


(Cakepan Serat Wedhatama, Sri Mangkunagara IV)


Rabu, 08 Januari 2014

Crita Wayang



   LAIRE KURAWA

Destarastra adalah kakak dari Pandu Dewanata. Ia memiliki kekurangan, yakni tidak dapat melihat. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat Pandu Dewanata kepada kakaknya tersebut. Karena saking hormatnya ia kepada kakaknya, Prabu Pandu membawa tiga putri dimana  salah satu dari mereka akan dipersunting Destarastra. Ketiga putri tersebut yakni Dewi Kunthi, Dewi Madrim, dan Dewi Gendari.
Akhirnya, Destarastra memilih Dewi Gendari untuk dijadikan istrinya. Dewi Gendari merasa kecewa. Seharusnya putri cantik sepertinya menjadi istri Pandu Dewanata, bukan Destarastra yang buta itu. Dalam hati ia bersumpah bahwa anak keturunannya dengan Destarastra tidak akan pernah akur dengan anak keturunan Pandu Dewanata.
Tak lama kemudian, Dewi Gendari pun hamil. Namun, Destarastra merasa sangat bersedih hati, Kesedihan mereka disebabkan kandungan Dewi Gendari yang telah mencapai usia tiga tahun lamanya. Walau telah mencapai 1000 hari lebih, melampaui batas kenormalan usia hamil, akan tetapi belum juga ada tanda-tanda akan melahirkan si jabang bayi.
Selama mengandung, angan-angan Dewi Gendari tak pernah lepas dari rasa dendam dan sakit hati kepada Pandu Dewanata. Ambisi untuk menumpas keturunan sang pandu sebagai pelampiasan dendam sakit hatinya selalu tak pernah lupa diucapkan dalam permohonan doa Dewi Gendari kepada dewata. Akan tetapi saat itu belum juga ada dampak terkabulnya doa permintaan isteri adipati negara Ngastinapura ini.
Pagi, siang, sore hingga malam hari, hatinya senantiasa dirundung perasaan resah, gelisah, dan bahkan hampir putus asa. Mengingat antara apa yang menjadi cita-cita dendam hatinya, maupun ingat akan kandungannya yang telah melampaui kenormalan itu, sama sekali belum membawa hasil seperti apa yang diharapkannya. Pendek kata, selama masa kehamilan, Dewi Gendari tak pernah memiliki ketentraman di hati. Apalagi setelah mengetahui Dewi Kunthi, permaisuri Pandu telah melahirkan puteranya yang pertama, yang diberi nama Raden Puntadewa atau juga disebut Raden Wijakangka. bahkan Dewi Kunthi kini telah dan hampir melahirkan puteranya yang kedua. Kecemasan serta seribu satu macam perasaan gelisah dan tidak enak terkandung dalam hati Dewi Gendari ini semakin menjadi-jadi.
Ketiadamenentuan perasaan hati Dewi Gendari yang sedang berbadan dua itu, mengakibatkan tubuhnya terasa gerah dan tidak betah tinggal dalam bangsal Kaputren. Dewi Gendari kemudian melangkahkan kakinya, dengan langkah-langkah gontai menuruni tangga pualam di bangsalnya menulusuri jalan setapak di antara hijaunya rerumputan, menuju ke taman sari kerajaan Ngastinapura yang luas dan asri, diikuti oleh empat orang emban sebagai abdi pengiringnya.
Saat itu matahari telah condong ke barat, saat Dewi Gendari beserta empat orang abdinya menulusuri jalan setapak yang terbuat dari pualam, diantara semerbak harum aneka bunga, serta rimbunnya pohon buah-buahan yang menghiasi taman kerajaan, gerbang-gerbang sebagai batas bagian-bagian taman yang luas itu, pandangan matanya yang sayu lurus memandang ke depan seakan-akan tak peduli dengan segala keindahan taman di sekelilingnya. Tak lama kemudian Dewi Gendari telah melalui gerbang taman yang ke tujuh dan merupakan bagian taman yang terakhir.
Dalam bagian taman ini berisi aneka macam binatang buas maupun jinak serta beragam unggas sebaga hiasannya, tak ubahnya seperti isi kebun binatang layaknya namun tampat terawat bersih dan rapi. Di tengah petamanan margasatwa ini terdapat sebuah kolam besar yang terbuat dari batu pualam dengan dihiasi kelompok bunga teratai nan mekar dengan indahnya. Ikan-ikan yang berwarna-warni berlari berpasangan berkejar-kejaran di bawah warna biru jernihnya air. tanpa sepengetahuan Dewi Gendari bahwa kedatangannya di taman satwa itu, telah membuat seluruh binatang buas yang ada di taman menjadi beringas, sementara binatang yang jinak serta unggas seperti gelisah dan ketakutan,semua ini merupakan firasat buruk.
Hembusan angin keras membuyarkan lamunan Dewi Gendari, mengetahui cuaca buru, Dewi Gendari mengajak para emban kembali ke kaputren. Langkah Dewi Gendari semakin dipercepat karena renai gerimis telah mulai turun. Tiba tiba saja Dewi Gendari yang sedang mengandung ini tersentak kaget saat mendengar suara harimau mengaum begitu keras. Karena rasa kaget yang teramat sangat tubuh Dewi Gendari gemetar, wajah pucat, tak terasa Dewi Gendari telah melahirkan di tempat di mana ia berdiri, yaitu bebrapa jengkal sebelum mencapai gerbang kaputren tempat tinggalnya. Dewi Gendari bukan melahirkan bayi sehat dan mungil, melainkan adalah segumpal daging yang bercampur darah mengental, berwarna mrah kehitam-hitaman, daging yang baru lahir dari rahim Dewi Gendari itu bergerak-gerak serta berdenyut-denyut seakan-akan bernyawa.
Setelah melihat dan mengetahui hal ini, bukan main marah Dewi Gendari, karena emosinya gumpalan daging itu diinjak injah hingga terpecah belah, lalu ditendang-tendang dengan kakinya ke arah yagn tak menentu, pecahan serta serpihan daging yang dilahirkan Dewi Gendari tercerai berai berserakan di atas rerumputan taman. Dewi Gendari merasa emosi, geram dan marah. Setelah itu ia pun menjerit dan mengangis histeris, lalu pingsan. Setelah itu ia lalu dibawa masuk ke Kaputren tempat kediamannya. Anehnya, setiap serpihan daging yang berserakan itu besar atau kecil tetap berdenyut dan bergerak-gerak.
Atas nasehat Begawan Abiyasa yang telah datang secara gaib dari pertapaannya, meminta agar Destarasta memerintahkan para abddinya untuk menutupi setiap serpihan daging itu dengan daun jati.
Dengan was-was serta perasaan takut yang tertahan, maka para emban serta beberapa orang prajurit penjaga taman melaksanakan tugas yang diperintahkan Destarasta, menutupi serpihan daging itu dengan daun jati, jumlahnya mencapai 100 keping. Bersamaan dengan kejadian itu, suasana taman di Ngastinapura berubah menjadi sangat menyeramkan. Binatang buas mengeluarkan suaranya, disusul dengan lolongan anjing hutan yang berkepanjangan bersahutan, burung hantu, kelelawar, burung gagak serta binatang malam lainnya. Binatang-binatang yang lelolong tak kunjung berhenti, suasana seram dan menakutkan meliputi Ngastinapura. Banyak para emban dan prajurit penjaga malam ketakutan, wajahnya pucat, badannya menggigil, merinding bulu romanya.
Dewi Gendari yang telah siuman dari pingsannya turun dari tempat peraduannya menuju tempat pemujaan, ia memohon kepada dewa, agar cita-citanya untuk berputera banyak, bisa terkabul. tiba-tiba saja Batari Durga muncul secara gaib dan memberitahukan, apabila lewat tengah malam mendengar tangisan bayi di taman, Dewi Gendari agar cepat-cepat menghampiri bayi tsb, karena itu adalah puteranya. setelah memberikan pesan Batari Durgapun menghilang dari hadapan Dewi Gendari secara gaib, kembali ke kahyangan di wukir pidikan.
Dan benar saja, saat terdengar tangisan, Dewi Gendari segera menuju ke taman. Dan betapa terkejutnya ia saat ia melihat ada 100 bayi di sana. Seluruh isi kerajaan bahagia mendengar berita tersebut. Para Kurawa (putera Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala (atau Duççala atau Dussala).
Dretarastra mempunyai anak dengan seorang wanita dari kasta waisya, yang dinamakan Yuyutsu. Nama Yuyutsu dalam bahasa Sanskerta artinya ialah “yang memiliki kemauan untuk berperang/bertempur”. Berbeda dengan para Kurawa pada umumnya, ia tidak berbuat jahat pada para Pandawa, sepupunya. Saat perseteruan antara Pandawa dan Kurawa sudah mencapai klimaks, dikeluarkanlah pengumuman untuk berperang. Yuyutsu bergabung di bawah panji-panji pasukan Kurawa. Mereka berperang di Kurukshetra, India Utara.
Sesaat sebelum perang di Kurukshetra dimulai, Yudistira — yang sulung di antara Pandawa — maju ke hadapan pasukan Kurawa untuk memastikan apakah ada yang berubah pikiran dan mau berpihak kepadanya. Hanya Yuyutsu yang menanggapinya, sehingga ia keluar dari barisan pasukan Kurawa dan bergabung dengan pasukan Pandawa. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sementara saudaranya yang lain gugur semua di medan perang Kurukshetra.

Cerita Wayang



1.     KRESNA DUTA


Pandawa telah selesai menjalani masa pembuangan dan pengasingan selama 13 tahun. Sudah menjadi hak Pandawa untuk kembali mendapatkan Astina dan Amarta kembali yang diambil oleh Kurawa. Padhawa telah dua kali mengirimkan duta ke Ngastina untuk mengajak Kurawa berdamai. Tapi keduanya gagal. Untuk itu, para Pandhawa akhirnya meminta bantuan Sri Kresna untuk menjadi duta Pandhawa yang terakhir dalam menempuh jalan damai antara Pandhawa dan Kurawa.
Sri Kresna berangkat ke Astina dengan dikusiri oleh Sencaki. Setibanya di Astina, Kresna segera menuju tempat Arya Widura untuk memberi hormat kepada Ibu Kunti dan paman Widura. Sementara, tetua dan pembesar-pembesar Astina telah berkumpul di aula kerajaan menunggu kedatangan duta Pandhawa tersebut.
Kresna memasuki aula kerajaan dan kemudian menyampaikan kedatangannya, yaitu sebagai duta Pandhawa. Pandhawa yang telah selesai menjalani hukuman, ingin meminta haknya kembali atas Indraprastha (Amarta).
Sejak awal, Kurawa memang tidak ingin mengembalikan Amarta kepada Pandawa. Prabu Duryudana pun menolak permintaan Sri Kresna. Duryudana memberikan berbagai alasan yang memang sudah direncakan untuk memperkuat alasan mereka mengapa tidak ingin mengembalikan Indraprastha kepada Pandawa.
Duryudana mengatakan bahwa tindakan Pandhawa mengadakan upacara Rajasuya menunjukkan bahwa Pandhawa mengagungkan diri mereka sendiri. Sri Kresna kemudian menjawab bahwa Rajasuya itu bukan merupakan keputusan Yudhistira melainkan merupakan kesepakatan raja-raja yang mengakui Yudhistira sebagai raja yang arif  bijaksana.
Duryudana kemudian berdalih bahwa para Pandhawa telah melanggar hukuman ketika terjadi perselisihan antara Hastina dan Wirata. Pandhawa telah menampakkan diri dan bahkan mengangkat senjata terhadap para Kurawa. Sri Kresna kemudian membalas bahwa saat itu menurut hitungannya, para Pandhawa sudah terlepas dari masa hukuman dan mereka mengangkat senjata karena saat itu mereka sedang mengabdi di Wirata . Sebagai penduduk Wirata, sudah menjadi kewajiban mereka untuk mengangkat senjata demi membela Negara.
Mendengar perdebatan antara Duryudana dan Kresna, Eyang Bisma berusaha menengahi. Namun, usahanya ternyata sia-sia. Duryudhana justru menganggap bahwa Eyang Bisma memang lebih memilih Pandhawa daripada Kurawa.
Akhirnya, Sri Kresna menanyakan keputusan Kurawa untuk terakhir kalinya, apakah Duryudana akan mengembalikan hak Indraprastha kepada Pandhawa atau tidak. “Para Pandhawa telah menghina keluarga Hastina terutama Kurawa, semua Kurawa telah sepakat tidak akan duduk setingkat dengan para Pandhawa dan tidak akan mengembalikan Indraprastha”, Jawab Duryudana.
Jawaban itu membuat Sri kresna kesal dan kemudian ia berkata, “Duryudana, para tetua disini akan menjadi saksi atas perkataanmu, perkataanmu ini harus kau pertangunggjawabkan di kemudian hari. Aku akan memberitahukan keputusanmu kepada Pandhawa!”.
Sri Kresna kemudian meninggalkan gedung pertemuan. Ia menuju ke sebuah taman di dalam istana Hastina. Tampak matanya bersinar tanda amarhnya telah memuncak. Kresna bertriwikrama, berubah ujud menjadi Brahala, makhluk raksasa yang luar biasa besar.
Triwikrama Kresna membuar seluruh Astina gempar dan ketakutan. Para Kurawa berlarian kesana kemarin mencari tempat bersembunyi. Resi Drona yang juga ketakutan tidak berani meninggalkan gedung. Sementara Eyang Bisma dan Arya Widura dengan tenang meninggalkan gedung pertemuan tanpa rasa takut seperti tidak terjadi apa-apa.
Triwikrama Bathara Wisnu juga membuat gempar kahyangan. Para dewa khawatir dan turun untuk melihat triwikrama Sri Kresna. Para dewa bingung bagaimana harus menghentikan triwikrama Sri Kresna. Maka mereka memutuskan, untuk menjemput Bathara Darma untuk menenangkan kemarahan Triwikrama. Dewa kebijaksanaan dan kesabaran tersebut pelan-pelan mendekati triwikrama dan memberi hormat. 
Sang Tiwikarma menjawab dengan sebuah peringatan, “ Grrrr.. jangan dekat dekat Dharma, jika kau tidak ingin kucabik-cabik tubuhmu”.
“Aku bukanlah musuhmu wahai triwikrama, bahkan aku bersedia membantumu untuk mengalahkan musuhmu”, jawab Bathara Dharma. 
“Aku tidak butuh bantuanmu untuk menghancurkan Kurawa-Kurawa sombong ini”, jawab sang triwikrama.
Bathara kemudian menuturkan, ”Sesakti itukah para Kurawa, sehingga perlu dihancurkan oleh triwikrama? Apakah kejahatan mereka mengguncang mayapadha seperti Rahwana? Apakah perlu Tiwikarama yang sakti sebagai wakil dewata untuk turun tangan menghancurkan Kejahatan Kurawa?”
“Saudara Wisnu mohon ingat bahwa jika Kurawa dihancurkan oleh triwikrama ini akan membuat malu bagi seluruh Dewata. Apakah para Pandhawa tak dapat membela diri mereka sendiri sehingga memerlukan bantuan para dewata? Mohon adik Wisnu memperhitungkan lagi tindakan ini yang akan mencoreng muka seluruh dewata dan juga memalukan Pandhawa.” Mendengar penuturan Batara darma, dalam sekejap triwikrama itu menghilang dan kembali sebagai Sri Kresna. 
Sri Kresna kemudian ke tempat paman Widura untuk mohon diri dan member hormat kepada Arya Widura dan ibu Kunti. Ia pergi meninggalkan Hastina untuk menyampaikan berita hasil pertemuan dengan Kurawa kepada para Pandhawa.

Senin, 06 Januari 2014

Cerita Wayang



1.     CUPUMANIK ASTAGINA
(Subali-Sugriwa)
Diceritakan Rsi Gautama mempunyai 3 anak yaitu  Guwarsa, Anjani, dan Guwarsi. Istri dari Rsi Gautama mempunyai hubungan gelap degan Dewa Surya. Dewa Surya memberikan sebuah pusaka yang disebut Cupumanik Astagina pada Dewi Windradi. Dewi Windradi memberikan pusaka itu pada anak perempuannya, yaitu Anjani. Pada suatu hari, Guwarsa dan Guwarsi melihat Anjani yangh sedang memegang pusakanya. Mereka berdua pun berniat untuk meminjamnya, tapi Anjani tidak mau meminjamkan. Anjani lari, memanggil ayah dan ibunya. Guwarsa dan Guwarsi pun mengejar Anjani. Saat bertemu dengan Rsi Gautama, Anjani menceritakan kelakuan saudaranya. Kemuadian Guwarsa dan Guwarsi meminta keadilan pada Rsi Gautama. Mereka bertannya kenapa yang diberi pusaka hanya  Anjani. Rsi Gautama pun bingung, karena ia tidak pernah memberikan pusaka apapun pada Anjani. Betapa terkejutnya Rsi Gautama saat melihat pusaka yang dipegang anaknya. Pusaka itu adalah pusaka Kahyangan, dan hanya dimiliki oleh Dewa Surya. Rsi Gautama bertanya pada Anjani, siapa yang memberi pusaka itu. Anjani menjawab, pusaka itu diberi oleh ibunya, Dewi Windradi. Rsi Gautama marah mengetahui istrinya telah berselingkuh dengan Dewa. Kemudian ia pun mengutuk Dewi Windradi menjadi  tugu.
Setelah itu, cupumanik Astagina dibuang oleh Rsi Gautama dan jatuh di sebuah telaga. Ketiga anaknya pun mengejar pusaka tersebut. Rsi Gautama merasa prihatin dengan kelakuan anak-anaknya yang rakus dan suka berebut seperti kera. Saat di Telaga, Guwarsa dan Guwarsi yang berubah menjadi Kera bertarung, Guwarsa mengira Guwarsi adlah kera atau siluman penunggu telaga dan sebaliknya. Tidak hanya Guwarsa dan Guwarsi yang bertubuh kera, tapi Anjani juga mengalami hal yang sama. Mereka bertiga pun  meminta maaf pada ayahnya. Rsi Gautama menyuruh ketiga anaknya untuk bertapa. Anjani diperintahkan untuk tapa kodok di  Sungai Yamuna. Guwarsa dan Guwarsi diutus untuk bertapa di hutan Sunya Pringga, Guwarsa diperintahan untuk tapa kalong, sedangkan Guwarsi diperintahkan untuk tapa kidang. Mereka pun menjalankan perintah dari ayahnya.
Pada suatu hari, Subali dan Sugriwa mendengar berita tentang Dewi Tara yang diculik oleh penunggu gua Keskindha, yaitu Maesasura dan Lembusura. Subali meminta Sugriwa untuk membantunya menyelamatkan dewi tersebut. Mereka berdua pun pergi ke gua Kiskendha saat di sana, Subali  menyuruh Sugriwa untuk menunggunya di depan gua. Subali berpesan pada Sugriwa agar ia memperhatikan aliran air di sungai, bila yang mengalir adalah darah merah, berarti Subali berhasil mengalahkan Maesasura dan Lembusura. Tapi, apabila yang keluar adalah darah putih, itu menandakan Subali telah mati, ia harus segera menutup pintu gua agar penunggu gua tidak bisa bernafas dan akhirnya mati terjebak di dalam gua. Subali segera masuk ke dalam gua. Sugriwa terus melihat aliran air, sesuai pesan dari kakknya.
Setelah beberapa saat Subali masuk ke dalam gua, tiba-tiba aliran air mmenjadi berwarna merah, Sugriwa sangat senang, karena itu menandakan kakaknya telah berhasil mengalahkan Maesasura dan Lembusura. Akan tetapi, tak lama berselang, alirannya bercampur darah putih. Sugriwa pun sedih karena itu berarti kakanya telah mati. Sugriwa pun menjalankan perintah Subali, menutup pintu  gua agar Maesasura dan Lembusura tidak bisa keluar. Setelah itu, ia kembali ke kekayangan dan mengabarkkan kabar buruk itu.
Saat akan keluar dari gua, Subali terkejutb dan marah. Ia mengira adiknya sengaja metup pintu gua agar ia mati kehabisan nafas. Subali menggunakan jian Pancasona agar ia bisa keluar dari dalam gua. Setelah berhasil keluar, ia pun pergi mencari Sugriwa. Saat bertemu Sugriwa, Subali meluapkan kemarahannya deengan menantang Sugriwa untuk bertarung dengannya. Tapi saat diserang Sugriwa tidak melakukan  perlawanan. Rsi Gautama pun datang dan mengatakan yang sebenarya pada Subali, bahwa sebenarnya Sugriwa tidak berslah. Adiknya itu hanya mencalankan pesan darinya, yaitu menutup  pintu gua apabila yang mengalir adalah darah putih, dan yang mengalir bersama aliran air sungai adalah darah merah bercampur darah putih. Rsi Gautama juga menyalahkan Subali, mengapa ia menganggap dirinya adalah orang suci yang mempunyai darah putih. Tapa yang telah dilakukan oleh Subali terbuang sia-sia, kelakuannya masih sama seperti yang dulu. Subali pun menangis menyesali perbuatannya.